Thursday, June 6, 2013

简单的爱情故事

他和她本来是同一个奶奶。他的妈妈和她的妈妈是姐妹。他比她大一岁。他们不是富人,每天只想怎么能赚钱让家人过生活,所以没有时间跟别人交往。
那时的她不像一位公主,而他也不像一位王子。他们看起来真的不配,性格有许多不同的,但他们有一样的爱好:运动。他们常常在球场上见面。
当他快要40岁时,他的母亲很担心他不会结婚。每一次介绍给他的女朋友都不适合。有一天,他跟他的母亲说,"别再介绍女朋友给我了,我已经喜欢一个人了"。他的母亲高兴得不得了,"是谁呢?"。他说,"那位女生是阿姨的女儿"。因为他的妈妈和她的妈妈担心这两位孩子不要结婚,然后就答应了。当他们结婚时,他已经41岁了,而她40岁了。3年后,他们有一个女儿了,那就是我。虽然不是一个很完美的家庭,但我们一家人都过得很幸福。



 
 

Move Forward

PicMix (103)

Pelarian Singkat

Terkadang untuk bisa tetap bersemangat menjalani segala aktivitas harian, kita butuh pelarian singkat. Meski hanya sebentar, jika kamu berhasil membuat pelarian singkat itu menjadi sempurna, maka dipastikan kamu akan mampu memenangkan berbagai tantangan hari ini.
  1. Mulailah dari kasur. Ciptakan sebuah ritual bangun tidur yang menyenangkan, misalnya dengan tersenyum, memutar lagu kesukaan, atau mengucapkan kalimat motivasi.
  2. Jangan lupa masukkan camilan ke tas. Usai sarapan, sediakan perbekalan energi dengan memasukkan camilan sehat ke dalam tas, seperti pisang, apel, atau cokelat hitam. Selain bisa memanjakan lidah, camilan-camilan ini juga bisa membuat perut rata dan buat kamu terus bersemangat.
  3. Mulai kerja dengan mendengarkan musik sejenak. Mendengarkan alunan musik favorit mampu menstabilkan tekanan darah dan redakan stres. Jadi, setelah menyeduh kopi dan menyapa rekan-rekan kerja, coba luangkan waktu untuk memanjakan kedua telinga lewat musik.
  4. Hiruplah aroma lemon. Tumpukan pekerjaan mulai membuat kamu stres? Coba ciumlah aroma lemon. Kandungan dalam lemon bisa bertugas sebagai zat anti stres.
  5. Lakukan peregangan secara berkala. Jangan biarkan otot-otot tegang karena terlalu lama bekerja di depan komputer. Cukup luruskan kedua tangan ke atas dan bergerak ke kanan serta ke kiri. Atau kamu juga bisa berjalan keliling kantor selama 10 menit.
  6. Tanamkan energi positif di rumah. Mungkin pekerjaan hari ini menguras seluruh kamu, tapi jangan biarkan negatif merusak sisa harimu. Coba tuliskan daftar kebahagianmu hari ini, bersyukurlah dan ucapkan terima kasih pada diri sendiri karena telah sukses melalui segala rintangan sepanjang hari.

Petani

Gordon MacDonald dan istrinya suatu kali bepergian ke pegunungan Alpen di Swiss. Dalam perjalanan di pegunungan tersebut, mereka melihat ada dua orang petani yang memotong pohon. Mereka ambil waktu untuk mengamati kedua petani tersebut. Setelah diamati, maka mereka melihat bahwa setiap kali setelah memakai kapaknya sekitar sepuluh menit, kedua petani tadi berhenti dan mengasah kapak mereka untuk mempertajamnya. Hal ini dilakukan setiap sekitar sepuluh menit. Dan mereka selalu mengasah kapaknya sekitar lima menit. Hasilnya? Mereka selalu bisa menebang dengan cepat dan pulang lebih awal ketimbang mereka terus menerus menebang pohon tanpa mengasahnya.

Professional Team…
Kita harus belajar prinsip "memotong dan menajamkan" dan menerapkan dalam hidup kita. Seharusnya kita telah memahami prinsip ini, hanya kita merasa "rugi" harus memberi waktu untuk mengasah. Namun justru disinilah letak perbedaannya. Eksekutif yang memberi diri untuk "cut and sharpening" jauh lebih efektif dalam hidup dan pekerjaannya dibanding eksekutif yang tidak memberi diri melakukan prinsip penting ini.

Dalam dunia pekerjaan kita harus juga mengaplikasikan prinsip ini. Dimana kita belajar "cut and sharpening". Dengan kata lain, sebagai eksekutif marilah belajar untuk meng-educate diri sendiri. Jangan merasa puas dengan pengetahuan dan level kesuksesan yang telah dicapainya sampai hari ini. Kita perlu melakukan "refreshing" dengan meningkatkan education kita.

10% Bakat, 90% Kerja Keras

Tidak ada yang gratis. Tidak ada yang mudah. Sebuah pencapaian selalu memiliki label harganya sendiri. Makin besar sebuah pencapaian, makin besar harga bayarnya. Dalam hal apapun, prinsip ini akan terus berlaku. Bahkan seorang seniman atau musisi yang tampaknya urakan, jauh dari segala bentuk keteraturan pun, ternyata memiliki kedisiplinan yang tinggi dan memiliki totalitas di dalam kariernya. Yngwie Malmsteen, rocker yang terkenal sebagai gitaris hebat kelas dunia, ternyata memiliki kedisiplinan yang tinggi dalam berlatih. Yngwie berlatih dari sejak usia 5 tahun, selama 8 jam sehari! Balawan, gitaris Indonesia yang bermain dua gitar sekaligus dalam setiap penampilannya, bisa sehebat itu karena ia berlatih 10 jam sehari! Kalau rocker atau seniman yang dikenal anti keteraturan pun ternyata memiliki disiplin yang tinggi, bukankah terlebih lagi kita?
 
Apakah mereka bukan orang yang berbakat? Jelas, mereka adalah orang yang sangat berbakat. Meski demikian, mereka sadar bahwa bakat saja tidak cukup. Bakat baru menjadi berarti kalau disertai dengan kedisiplinan. Sebuah kalimat bijak berkata, "Sukses ditentukan oleh 10% bakat dan 90% kerja keras!" Bakat memang penting, tapi kedisiplinan jauh lebih penting lagi. Sayangnya, banyak orang terlalu mengagung-agungkan bakat dan mengabaikan kedisiplinan. Padahal kita tahu bahwa kedisiplinan jauh lebih menentukan keberhasilan  dibandingkan dengan bakat. Bukankah kita sering mendengar orang berkomentar, "Dia sangat berbakat!" Padahal bisa menjadi sedemikian hebat bukan karena bakatnya, tapi karena kedisiplinannya.

Wednesday, June 5, 2013

You're No Surprise To God

Do you ever feel like God is disappointed with you? I used to feel this way until one day He said, "You know, Joyce, you're no surprise to Me. I knew what I was getting when I got you."
Think about it! God knows the end from the beginning, and all the days of our life are written in His book. Every decision we're ever going to make, good or bad, God already knew them before we ever showed up on planet earth. He already knows today every word in our mouth that is still unuttered - even what we're going to say a year from now.

Sometimes we go around thinking that God is so disappointed with us all the time. It's true that we make mistakes. And we're not supposed to be lighthearted about them - we need to take them seriously. But in spite of our mistakes, God has hope for us and knows that He can change us if we'll stay close to Him.
God's not disappointed. He's full of hope where we're concerned! He believes in us more than we do ourselves.